Surabaya, Kampus Ursulin — Sanmaris, Yayasan Paratha Bhakti menyelenggarakan kegiatan workshop bertajuk “Pemanfaatan Gen-AI untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Yayasan Paratha Bhakti di Era Digital” pada Kamis, 15 Januari 2026, di Aula Lantai 4 Kampus Santa Maria Surabaya. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru dari semua unit sekolah di bawah naungan Yayasan Paratha Bhakti.

Lokakarya ini menjadi langkah strategis Yayasan dalam merespons perkembangan teknologi kecerdasan buatan generatif (Generative Artificial Intelligence/Gen-AI) yang semakin memengaruhi dunia pendidikan. Para pendidik diajak untuk memahami konsep dasar Gen-AI, peluang pemanfaatannya dalam pembelajaran, sekaligus tantangan etis yang perlu disikapi secara bijak dan bertanggung jawab.

Dalam sambutannya, Ketua II Yayasan Paratha Bhakti, Sr. Noorwindhi Kartika Dewi, OSU – biasa disapa Suster Windhi – menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi harus selalu berpijak pada nilai dan misi Pendidikan Ursulin. “Pendidikan Ursulin memandang setiap anak sebagai pribadi yang unik dan bermartabat. Di tengah kemajuan teknologi seperti Generative AI, tugas kita bukan sekadar mengikuti arus digital, tetapi memastikan bahwa setiap inovasi tetap berpijak pada nilai: integritas, pelayanan, dan cinta kasih. Melalui workshop ini, Yayasan Paratha Bhakti menegaskan komitmennya untuk membentuk pendidik yang unggul secara profesional sekaligus kuat dalam karakter Ursulin,” tutur Suster Windhi.

Rangkaian sesi kegiatan ini dirancang secara bertahap dan aplikatif. Ruslan, M.Kom., mengawali sesi inti dengan membawakan materi literasi Gen-AI dan menempatkan AI sebagai mitra pendidik. Melalui paparan interaktif, para guru diajak membangun mindset yang tepat tentang Gen-AI, memahami konsep intinya, serta mengeksplorasi peluang pemanfaatannya baik dalam pembelajaran maupun administrasi sekolah.



Pada sesi berikutnya, Maria Theresia Nike K., M.Pd., memandu penguatan kurikulum dengan fokus pada kompetensi guru abad ke-21 dan integrasi AI dalam proses belajar mengajar. Ia menyajikan contoh konkret penggunaan AI dalam modul dan asesmen, sekaligus mengarahkan agar pemanfaatan AI tidak berhenti pada penggunaan alat, tetapi benar-benar mendukung pembelajaran yang bermakna dan berdiferensiasi.


Setelah jeda istirahat, Ruslan, M.Kom., kembali melanjutkan sesi dengan membahas etika dan rambu penggunaan AI di lingkungan Yayasan. Ia menguraikan empat pilar etis pemanfaatan AI, yakni agensi, inklusivitas, transparansi, dan keamanan data, serta menekankan pentingnya integritas akademik dalam setiap praktik berbantuan teknologi.

Rangkaian sesi dilanjutkan dengan demonstrasi langsung berbagai tools pendukung pembelajaran, termasuk NotebookLM, teknik prompting, serta pemanfaatan Gemini dan ChatGPT. Melalui demo ini, para guru mendapatkan gambaran praktis bagaimana AI dapat digunakan secara efektif dan bertanggung jawab untuk menunjang tugas profesional mereka.

Manfaat lokakarya ini dirasakan langsung oleh para peserta. Maria Yuliana Simanjuntak, S. Pd., salah satu peserta dari unit SMA Santa Maria Surabaya, menyampaikan bahwa kegiatan ini membuka wawasan baru dalam memanfaatkan teknologi secara tepat guna. “Workshop ini sangat membantu kami sebagai guru untuk memahami AI bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai mitra. Saya jadi lebih percaya diri menggunakan Gen-AI untuk menyusun materi, merancang asesmen, dan tetap menjaga kejujuran akademik siswa,” ungkap Maria.

Melalui kegiatan ini, para guru dibekali wawasan dan keterampilan praktis untuk memanfaatkan Gen-AI sebagai alat bantu dalam perencanaan pembelajaran, pengembangan materi ajar, hingga refleksi dan evaluasi proses belajar mengajar. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong pembelajaran yang lebih kreatif, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital.


Kegiatan edukatif ini sekaligus menjadi wujud komitmen Yayasan Paratha Bhakti sebagai lembaga pendidikan berbasis tradisi Ursulin yang terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar pendidikan karakter, kemanusiaan, dan pelayanan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Yayasan Paratha Bhakti berharap para pendidik semakin siap menjadi agen perubahan yang mampu memadukan teknologi dan nilai-nilai Ursulin demi terwujudnya pendidikan yang bermutu, berdaya saing, dan berkarakter di era digital.

Penulis: Bernardus Khrisma Wibisono, S.S., M.Si., Humas Yayasan Paratha Bhakti