Workshop Creative Marketing in School untuk Humas Yayasan Paratha Bhakti

Share:

Orang akan melupakan apa yang Anda katakan dan Anda lakukan, tapi orang tidak akan pernah melupakan bagaimana Anda membuat mereka merasa. (Maya Angelou)

Surabaya, Kampus Ursulin –Sanmaris, kegiatan promosi dan marketing komunikasi (Markom) pada tataran perspektif sekolah, sebenarnya bukan merupakan sebuah aktivitas yang sifatnya insidental, tiba-tiba, dan tidak terukur. Namun, diperlukan sebuah riset matang dan berkelanjutan untuk mendapatkan jumlah peserta didik baru sesuai target market yang diinginkan setiap tahunnya. Oleh karena itu, konsep, metode, dan strategi baru saat kegiatan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) wajib dan harus dikuasai oleh humas sekolah sebagai ujung tombak dan leader saat aktivitas PPDB.

Benang merah ini yang menjadi landasan utama Yayasan Paratha Bhakti menggelar Workshop bertajuk “Creative Marketing in School: Target, Strategi, dan Eksekusi PPDB,” (12/08/2023) di ruang Desenzano dengan mengundang narasumber F.X.Rudy Prasetya,S.S.,M.Med.Kom., selaku Koordinator Humas Yayasan Paratha Bhakti.

Pada sambutannya, Sr. Noorwindhi Kartika Dewi, OSU., atau akrab disapa Suster Windhi mengatakan, “Kegiatan workshop marketing sekolah hari ini sangat penting dan harus dipahami oleh para humas di Yayasan Paratha Bhakti. Oleh karena, persaingan untuk mendapatkan peserta didik baru saat ini sangat ketat. Diperlukan upaya kreatif dan inovatif dari Anda sebagai humas untuk mengimplementasikannya ke masing-masing unit,” ungkap Suster selaku Ketua III Yayasan Paratha Bhakti yang berkenan mengikuti keseluruhan acara dari pagi hingga usai.

Sementara itu, F.X. Rudy Prasetya atau biasa disapa Pras, selaku trainer di acara workshop  tersebut menyampaikan, “Bapak/Ibu humas, kini tren ke depan dan menjadi aspek penting dari strategi kunci marketing sekolah adalah menerapkan kekuatan persona yang menyentuh layanan jasa sepenuh hati. Artinya, pelanggan sekarang tidak hanya sekadar ingin mendapatkan jasa layanan yang bersifat tangible semata, tapi mereka sungguh-sungguh berharap akan mendapatkan jasa layanan yang mampu menggugah perasaan berkesan atau biasa dikenal dengan emotional branding dalam kajian school marketing,” ungkap Pras yang juga merupakan trainer marketing di beberapa universitas di Surabaya ini.

Dalam workshop tersebut peserta mendapatkan materi yang berfokus pada kajian taktis, bukan teoritis. Setiap peserta mendapatkan panduan langkah-langkah untuk merancang keseluruhan proses marketing sekolah secara terpadu dalam konsep Integrated Marketing Communication (IMC). “Nah, melalui panduan atau template ini, mulai sekarang humas dapat mengindentifikasi proses interaksi terukur agar nantinya dapat digunakan untuk mengetahui prioritas pelanggan di sepanjang rantai interaksi jasa layanan marketing sekolah di masing-masing unit saat kegiatan PPDB,” imbuh Pras. (dya)