REGULA
ST. ANGELA MERICI

Melawan arus, digerakkan roh kudus

St Angela Merici (1474-1540) adalah atribut reformis, visioner dan pengambil risiko walaupun terkadang situasi tidak menguntungkan baginya. Dikanonisasi pada tahun 1807, ia merevolusi peran wanita baik di Gereja maupun di masyarakat, khususnya mengenai pendidikan. Pada abad ke-16, kebanyakan wanita memiliki dua pilihan: menikah atau hidup di biara. Angela, yang diilhami secara ilahi, menetapkan sebuah alternatif.

Dia membentuk sebuah kongregasi di bawah perlindungan St. Ursula, ordo pengajaran wanita pertama yang didirikan di Gereja, dan hingga saat ini telah berpegang teguh pada karya institutnya. Anggotanya disebut Ursulin.

1. Dalam nama Tritunggal Yang Maha Kudus.
2. Prakata tentang hidup para perawan yang baru-baru ini dirintis dengan nama Kompani Santa Ursula.
3. Prakata ini dipersembahkan kepada puteri-puteri dan saudari-saudari Kompani Santa Ursula.
4. Puteri-puteri dan saudari-saudariku tercinta, Allah telah memberikan rahmat kepada anda untuk menarik diri dari kegelapan dunia yang menyedihkan ini dan telah mengumpulkan anda untuk pelayanan Tuhan Yang Maha Agung,
5. selayaknyalah anda berterima kasih sedalam-dalamnya karena ia telah memberkati anda masing-masing dengan rahmat yang begitu khusus.
6. Betapa banyak orang penting dan orang-orang berpangkat lain tidak memiliki dan tidak mampu mendapatkan rahmat seperti itu.
7. Karena itu, saudari-saudariku, saya mendesak, memohon dengan sangat bahwa: karena anda telah dipilih menjadi mempelai yang setia dan suci dari Putera Allah,
8. pertama-tama hendaknya anda mau menyadari arti dan konsekuensinya dan menyadari betapa barunya dan mengagumkan keluhuran panggilan ini.
9. Anda harus berbuat apa saja dengan seluruh kekuatan anda untuk tetap setia pada panggilan Tuhan,
10. untuk mencari dan mendambakan semua cara dan jalan yang dibutuhkan untuk bertahan dan maju sampai akhir.
11. Tidaklah cukup untuk memulai, bila tanpa ketahanan. Inilah sebabnya Kebenaran berkata: “Qui perseverit usque in finem, hic salvus erit”: dia yang bertahan sampai akhir akan diselamatkan.
12. Dikatakan juga: “Beati qui audiunt verbum Dei et custodiunt illud”, yang berarti , berbahagialah mereka yang diilhami Allah dengan terang kebenaran dan yang dianugerahi kerinduan akan rumah abadi surgawi; dan oleh karena itu, mereka akan berusaha untuk memelihara suara kebenaran ini dalam diri mereka dan keinginan yang suci ini.
13. Pastilah hanya orang yang bersedia menyambut semua jalan dan cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan ini, yang akan mampu bertahan dengan setia.
14. karena tidaklah berbeda atau hampir tidak ada bedanya yang menyatakan: “Saya tidak melayani Allah lagi” atau yang tidak menggunakan jalan dan peraturan yang diperlukan untuk tetap setia dalam pelayananNya.
15. Dan terlebih lagi, saudari-saudariku, kita harus waspada karena tugas kita teramat penting, dan tak ada yang lebih penting daripada itu,
16. karena hidup dan keselamatan kita dipertaruhkan.
17. dan kita dipanggil untuk suatu kehidupan yang mulia menjadi mempelai Putera Allah dan ratu di surga.
18. Akan tetapi di sini kita perlu berhati-hati dan bijaksana karena semakin besar nilai usaha kita, semakin besar beban dan bahaya yang terkandung di dalamnya,
19. karena tidak satupun bentuk kejahatan yang tidak akan mencoba menghalangi kita, mengingat bahwa (di dunia ini) kita berada di tengah-tengah perangkap dan bahaya,
20. hingga air, udara dan bumi, beserta seluruh neraka, akan bersiap melawan kita, karena daging dan nafsu kita belum mati.
21. Seperti juga musuh kita, setan, tidak pernah tidak pernah tidur atau beristirahat, tetapi (seperti kata Santo Petrus): dia seperti singa yang mengaum mengawasi kita dengan seksama untuk melihat dengan cara apa dia bisa menerkam siapa saja di antara kita dan dengan begitu banyak cara serta kelicikan yang tak terhitung oleh kita.
22. Tetapi, meskipun demikian saudari-saudariku, janganlah anda takut,
23. sebab bila anda nanti berusaha dengan sekuat tenaga untuk hidup sebagai mempelai Allah yang sejati
24. dan menjalankan Regula ini sebagai pedoman dalam perjalanan anda, yang telah disusun untuk kebaikan anda,
25. maka saya yakin dan berharap dengan teguh akan kebaikan Ilahi, bahwa kita tidak hanya akan dengan mudah mengatasi semua bahaya dan kesukaran; tetapi juga kita akan mengalahkan mereka, demi kemuliaan dan kegembiraan kita.
26. Kita bahkan akan melalui hidup yang singkat ini dalam penghiburan.
27. semua pedih dan sedih akan berubah menjadi sukacita dan kegembiraan. Kita akan mendapatkan bahwa jalan-jalan yang berduri dan berbatu akan bertabur bunga bagi kita, dan berlantai emas mulia.
28. Karena para malaikat kehidupan yang abadi akan menyertai kita, sejauh kita mengambil bagian dalam hidup suci mereka.
29. Karena itu, marilah kita semua menyambut Regula suci ini yang telah diberikan kepada kita oleh Allah dalam rahmatNya.
30. Diperlengkapi dengan ketaatan akan perintah-perintah suci ini marilah kita hidup dengan berani. Seperti Yudith yang dengan berani memenggal kepala Holofernes, yaitu setan, dan dengan bahagia memasuki rumah abadi di surga.
31. Di sanalah semua orang di surga maupun di bumi akan menyongsong kita, dengan kegembiraan dan kemuliaan.
32. Dan sekarang, marilah kita semua mendengar dengan cermat, dengan hati lapang dan terbuka.

1. Pertama-tama perhatikanlah bahwa siapa saja yang berhasrat memasuki atau diterima dalam Kompani ini , haruslah seorang perawan,
2. dan memiliki tekad yang teguh untuk mengabdi Allah dalam cara hidup ini.
3. Kemudian dia harus masuk dengan gembira
4. dan atas kemauannya sendiri.
5. Ketiga: ia tidak boleh terikat oleh kaul biara apapun atau pada lelaki manapun di dunia.
6. Keempat : Jika ia mempunyai ayah atau ibu atau wali lainnya, ia harus minta ijin mereka dahulu.
7. Jadi, ibu-ibu pembesar dan wali-wali Kompani inipun bisa bicara dengan mereka sehingga di kemudian hari mereka tak mempunyai alasan yang sah untuk mencegah dia dari hasrat mengabdikan dirinya pada ketaatan suci.
8. Kelima: paling sedikit ia sudah berumur dua belas tahun.
9. Bagaimanapun perlu diingat bahwa gadis-gadis di bawah umur dua belas tahun boleh diterima dalam kelompok ini hanya dengan maksud membentuk mereka terhadap kenyataan hidup lajang ini.

1. Perlu diingat, bahwa pakaian dan cara berpakaian mereka harus sopan dan sederhana sebagaimana layaknya kesederhanaan seorang perawan:
2. karena itu, mereka harus memakai gaun yang tertutup dengan baik dan syal dari linen atau katun kain yang tidak terlalu mewah dan tidak tembus pandang; demikian pula halnya dengan kerudung mereka.
3. Baju mereka harus terbuat dari kain kasar atau sejenis kain wol berwarna coklat atau coklat tua, atau abu-abu, atau abu-abu tua, yang cocok dengan mereka masing-masing sesuai dengan kemungkinan yang ada.
4. Mereka boleh tetap mengenakan pakaian yang mereka miliki pada saat masuk Kompani hanya sampai pakaian itu rusak, dan asal pakaian itu tidak berlipit-lipit tak berbelah lengannya, atau mempunyai bordir kerawang, sulaman, ataupun hiasan lain.
5. Hendaknya mereka mengenakan ikat pinggang kulit sebagai tanda matiraga lahir dan kesucian batin yang sempurna*.
6. Mereka tidak boleh mengenakan sutera, atau beludru, atau perak atau emas; maupun sandal atau sepatu yang tidak hitam dan sederhana.
7. Syal atau kerudung tidak boleh warna-warni, atau terbuat dari sutera, atau kain yang terlalu mewah dan tembus pandang; pakaian dalam mereka tidak berlipit-lipit.
8. Pendek kata, tidak mengikuti mode, atau penuh perhiasan atau tembus pandang, dan memakai hal-hal lain yang tidak perlu, yang bisa menodai hati nurani mereka sendiri dan orang lain,
9. atau yang berlawanan dengan kesederhanaan seorang perawan.

* Ayat kelima mungkin ditambahkan setelah kematian Angela, karena penggunaan ikat pinggang tidak menjadi keharusan sampai tanggal 11 Desember 1545. Terlebih lagi, Angela tidak pernah menyebut “kesucian” dalam hubungannya dengan para perawan; ia menggunakan kata “keperawanan”.

1. Selanjutnya perlu diingat bahwa: Pertama: mereka tidak boleh berhubungan dengan wanita yang mempunyai reputasi buruk.
2. Kemudian, mereka tidak boleh mendengarkan bujukan laki-laki maupun perempuan, terutama secara diam-diam.
3. Ketiga, mereka tidak boleh menghadiri pesta perkawinan, apalagi pesta dansa, permainan tombak atau pun pertunjukan duniawi serupa.
4. Keempat, mereka tidak boleh berdiri di balkon, di tangga masuk atau di jalan, baik sendiri maupun bersama-sama karena berbagai alasan.
5. Kelima, bila mereka berjalan di jalan umum, mereka harus berjalan dengan mata mengarah ke bawah dan kerudung diturunkan dengan sopan.
6. Hendaknya mereka berjalan dengan cepat tidak boleh memperlambat langkah atau singgah di sana-sini dengan rasa ingin tahu segalanya,
7. karena di mana-mana terdapat banyak bahaya dan tipu daya setan.
8. Keenam, apabila ibu ataupun wali mereka mengajak mereka ke arah bahaya semacam ini
9. atau menghalangi mereka untuk berpuasa, berdoa, mengaku dosa dan beramal
10. maka haruslah mereka melaporkannya kepada Pembesar Kompani supaya diperhatikan.

1. Hendaknya juga diingat bahwa setiap orang harus dengan sukarela menjalankan puasa badani sebagai suatu kebutuhan,
2. dan sebagai sarana untuk mencapai puasa rohani yang sejati sehingga semua kejahatan dan kesesatan dipatahkan.
3. Sesungguhnyalah kita dipanggil untuk berbuat demikian sebagaimana dicontohkan oleh semua orang kudus
4. dan terutama oleh hidup Yesus Kristus, satu-satunya jalan ke surga.
5. Oleh sebab itu Bunda Gereja Kudus menyerukan dengan lantang, supaya didengar oleh semua orang beriman, kata-kata ini kepada Allah: “Qui corporali ieiunio vitia comprimis, mentem elevas, virtutem largiris et praemia” yaitu, Ya Allah, melalui puasa badani, Engkau mengendalikan kejahatan, mengangkat hati kami dan menganugerahkan kebajikan dan berkat.
6. Karena keserakahan adalah asal mula semua penderitaan kita, maka pantaslah bila puasa dan pantang menjadi dasar dan sarana semua kebaikan dan kemajuan rohani kita.
7. Karena inilah ahli kanon mengatakan: “Indictum est ieiunium abstinentiae lex a Domino Deo, praevaricatio legis a diabolo”; artinya puasa, hukum pantang diperintahkan oleh Allah dan pelanggaran hukum adalah hasutan setan.
8. Karena itu kami menghimbau supaya kita masing-masing berpuasa terutama pada hari-hari berikut ini sepanjang tahun. Pertama: Semua hari yang diperintahkan oleh Bunda Gereja Kudus yaitu seluruh masa puasa, hari-hari kwartemper dan semua vigili yang diwajibkan.
9. Kemudian: dan seluruh masa Adven.
10. Ketiga: mereka harus berpuasa segera sesudah Penampakan Tuhan selama empat puluh hari tidak hanya untuk menguasai indera, nafsu dan dorongan badani yang pada saat-saat itu dibiarkan merajalela di dunia,
11. tetapi juga untuk memohon ampun di hadapan tahta Allah yang Maha Tinggi karena begitu banyak pelanggaran yang telah dilakukan oleh orang-orang Kristen dengan terang-terangan.
12. Keempat: Pada masa setelah Oktaf Paska mereka harus berpuasa tiga kali seminggu, yakni pada hari-hari Rabu, Jumat dan Sabtu.
13. Kelima: Mereka harus berpuasa tiga hari menjelang Kenaikan Tuhan Yesus atau hari-hari yang dirayakan oleh Gereja Kudus dengan litani-litani sebelum hari Kenaikan Tuhan Yesus untuk memohon pertolongan Allah bagi orang-orang kristen
14. Keenam: mereka harus berpuasa setiap hari setelah hari kenaikan Tuhan Yesus
15. dengan doa yang khusuk dan sekaligus tetap berdoa dengan sekuat tenaga sampai hari turunnya Roh Kudus, yakni sampai Pentekosta.
16. Sambil memohon pemenuhan janji Yesus Kristus bagi umat pilihanNya yang berkehendak baik.
17. Ketujuh: Setelah Pantekosta, mereka harus kembali berpuasa tiga hari seminggu seperti disebut di atas sampai masa Adven.
18. Tetapi untuk mencegah hal-hal yang tidak masuk akal, maka haruslah ditekankan bahwa tidak seorangpun boleh berpuasa tanpa nasehat terutama dari bapak pembimbing rohani
19. dan Ibu Pembesar Kompani, yang dapat mengurangi atau menghilangkan puasa-puasa ini jika menurut mereka hal ini diperlukan,
20. karena penyiksaan tubuh sendiri secara tidak bijaksana “esset offere holocaustum de rapina”, adalah seumpama mempersembahkan korban hasil curian, seperti yang dikatakan oleh Kanon Suci.

1. Perlu diingat juga bahwa setiap orang harus rajin berdoa, mental maupun vokal
2. disertai puasa; itulah sebabnya Kitab Suci mengatakan: “Bona est oratio cum ieiunio”; artinya doa adalah baik disertai puasa.
3. Dalam Kitab Suci kita membaca bahwa Anna, puteri Phanuel, di bait Allah, siang dan malam melayani Allah tak henti-hentinya berpuasa dan berdoa in ieiuniis et orationibus.
4. Karena seperti dengan puasa, kita mengekang keinginan badan dan perasaan, demikian pula melalui doa, kita memperoleh dari Allah rahmat hidup rohani.
5. Kita harus senantiasa berdoa dalam jiwa dan hati, karena kita pun senantiasa membutuhkan pertolongan Illahi, seperti dikatakan Kebenaran: “Oportet semper orare”, yaitu Kita harus selalu berdoa.
6. Selanjutnya kami menganjurkan untuk kerapkali berdoa vokal,
7. yang membuat indera jasmani kita selalu waspada
8. dan mempersiapkan kita untuk doa mental
9. Masing-masing hendaknya setiap hari mendoakan sekurang-kurangnya ofisi Santa Perawan Maria dan tujuh mazmur tobat dengan devosi khusuk.
10. Karena bila kita mengucapkan doa ofisi kita berbicara dengan Allah, seperti dikatakan oleh martir Beato Alexander.
11. Mereka yang tidak bisa berdoa ofisi akan dibantu oleh mereka yang bisa.
12. Mereka yang tidak bisa membaca, setiap pagi harus mengucapkan tiga puluh tiga Bapa Kami dan tiga puluh tiga Salam Maria untuk memperingati ketiga puluh tiga tahun Tuhan kita hidup di dunia ini karena cintaNya pada kita.
13. Pada waktu doa pagi mereka mendoakan tujuh Bapa Kami dan tujuh Salam Maria untuk menghormati ketujuh anugerah Roh Kudus.
14. Demikian pula mengucapkan doa yang sama pada setiap waktu kanonik ini: yaitu pada Terts, pada Sext, pada None, pada Vespers dan pada Kompleten.
15. Sebagai bahan doa dan juga untuk membuka jalan bagi doa mental, kami menyerukan kepada anda semua agar mengangkat hati kepada Allah dan setiap hari melatih diri, dengan berdoa dalam hati doa yang berikut ini atau yang serupa:
16. “Ya Tuhan, terangilah kegelapan hatiku,
17.dan berilah kepadaku rahmat untuk memilih kematian daripada sekalipun menyinggung diriMu yang Agung hari ini.
18. Kuatkanlah perasaan dan inderaku supaya tidak tersesat ke kanan atau ke kiri
19. atau memalingkan diriku dari terang wajahMu, penghiburan setiap hati yang berduka.
20. Celakalah aku, betapa sedih hatiku bila aku masuk ke dalam lubuk hatiku, karena malu aku tidak berani mengangkat mataku ke surga,
21. aku patut dimangsa hidup-hidup dalam api neraka. Melihat dalam diriku begitu banyak kesesatan, begitu banyak keburukan, dan hal-hal yang memalukan, dan begitu banyak binatang buas yang menyeramkan dan menakutkan.
22. Maka siang dan malam dalam bergerak dan diam, dalam bekerja atau berpikir, aku terdorong untuk memanjatkan dan meneriakkan doa ke surga dan memohon belas kasih serta waktu untuk memberi silih.
23. Sudilah O Tuhan yang Mahakasih, mengampuni dosaku yang teramat banyak ini dan semua kesalahan yang pernah kulakukan sejak hari permandianku sampai detik ini.
24. Sudilah juga mengampuni dosa-dosa ayah dan ibuku, saudara-saudara dan kawan-kawanku, dan dosa-dosa seluruh dunia.
25. Kumohon ini kepadaMu, demi SengsaraMu yang suci, demi DarahMu yang mulia yang ditumpahkan karena cintaMu kepada kami,
26. demi nama suciMu, semoga NamaMu dipuji di atas pasir lautan, di atas tetesan-tetesan air, di atas jutaan bintang-bintang.
27. Aku amat menyesal telah menunda begitu lama untuk melayani diriMu yang Agung.
28. Sedihlah aku hingga kini aku belum pernah menumpahkan setitik darahpun demi cinta kepadaMu,
29. tidak pernah aku mematuhi perintah-perintahMu yang Illahi.
30. Setiap kemalangan terasa sukar bagiku karena cintaku kepadaMu begitu kecil.
31. Tuhan, bagi begitu banyak manusia yang malang, yang tidak mengenal Engkau,
32. dan tidak sudi mengambil bagian dalam kesengsaraanMu yang suci,
33. hatiku tersayat
34. dan dengan rela (seandainya aku bisa), akan kutumpahkan darahku untuk membuka mata jiwa mereka.
35. Maka, aku mohon kepadaMu, O Tuhanku satu-satunya kehidupan dan harapanku,
36. terimalah hatiku yang kotor dan tercemar ini,
37. dan bakarlah semua nafsu dan keinginan jahat dalam perapian cinta IllahiMu yang berkobar.
38. Aku mohon, terimalah kehendak bebasku,
39. setiap tindakan yang kukehendaki, keinginan yang karena noda dosa tidak mampu membedakan yang baik dari yang jahat.
40. Terimalah tiap pikiranku, perkataan dan perbuatanku
41. semua yang kumiliki, baik di luar maupun di dalam.
42. Semua itu kuletakkan sebagai suatu persembahan di kakiMu, Tuhan Yang Agung.
43. Aku memohon supaya sudilah Engkau menerimanya meskipun aku begitu tidak pantas.
44. Amin”.

1. Juga masing-masing harus menghadiri Misa setiap hari dan sekurang-kurangnya menghadiri satu Misa penuh
2. dengan rendah hati dan khidmat
3. karena dalam Misa Kudus kita mendapatkan, lebih dari manapun, semua pahala dari Sengsara Tuhan kita.
4. Semakin besar perhatian, iman dan penyesalan yang kita nyatakan pada waktu mengikuti Misa, semakin dalam kita mengambil bagian dalam pahala-pahala suci itu, dan semakin besar pula hiburan yang kita peroleh.
5. Sesungguhnya hal ini adalah seperti komuni rohani.
6. Di lain pihak, kami menganjurkan anda untuk tidak terlalu lama berada di gereja.
7. Namun bila mereka ingin berdoa lebih lama mereka harus pergi ke kamarnya sendiri, dan di sana dengan pintu tertutup mereka dapat berdoa dengan cara dan sepanjang diilhami Roh Kudus dan dituntun oleh hati nuraninya.

1. Kami juga menyarankan agar masing-masing sering mengaku dosa sebagai penyembuhan yang diperlukan untuk luka-luka jiwa.
2. Karena tidak seorangpun akan dibersihkan dari dosa kecuali bila ia mengakui lebih dulu kesalahan-kesalahannya secara lisan kepada imam. Sebagaimana Kitab Suci berkata: “Dic tu prius iniquitates tuas ut justificeris”, yaitu pertama-tama akuilah dosa-dosamu, supaya engkau bisa dibenarkan.
3. Kebenaran berkata kepada Santo Petrus: “Tibi dabo claves regni caelorum, quodcumque ligaveris super terram erit ligatum erit et in caelis, et quodcumque solveris super terram erit solutum et in caelis”; artinya : Kepadamu akan kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apapun yang kau ikat di dunia akan terikat di Surga, dan apa yang kau lepaskan di dunia akan terlepaskan di Surga.
4. Ini memperlihatkan dengan jelas bahwa dosa takkan terhapuskan kecuali oleh seorang imam dan melalui pengakuan dosa,
5. karena bagaimana seorang imam dapat mengampuni dosa bila ia tidak diketahuinya
6. Bagaimana ia bisa mengetahuinya bila orang yang membuatnya, tidak mengakui sendiri dosanya karena dosa itu tersembunyi di dalam batinnya.
7. Hendaknya orang itu sendiri mau menghadap imam seperti menghadap Allah Hakim Abadi,
8. dan di sana penuh penyesalan,
9. dengan kejujuran dan ketulusan hati nuraninya mengakui dosanya
10. dan mohon ampun atas dosanya,
11. dengan takut dan hormat di depan imam sampai ia menerima pengampunan.
12. Sehubungan dengan itu hendaknya disepakati tempat atau gereja tertentu di mana seorang bapak pembimbing rohani yang bijaksana dan berpengalaman ditunjuk bagi mereka semua dan kepadanya setiap anggota akan mengaku dosa sekurang-kurangnya setiap bulan sekali.
13. Kemudian pada hari Jumat pertama setiap bulan mereka akan bertemu di gereja ini dan bersama-sama menerima Komuni Kudus dari imam ini.
14. Di samping itu, kami menyarankan supaya masing-masing mengakui dosa dan menerima Komuni di paroki masing-masing pada hari-hari raya suci.

1. Kami juga mendesak supaya masing-masing menjalankan ketaatan suci,
2. satu-satunya penangkalan sejati dari kehendak pribadi yang didalam diri kita bagaikan kegelapan neraka.
3. Mengenai hal itu Yesus berkata: “Non veni facere voluntatem meam sed ejus qui misit me Patris”, artinya Saya tidak datang untuk menjalankan kehendakKu, tetapi kehendak Bapa yang mengutus Aku.
4. Sesungguhnyalah ketaatan adalah terang besar dalam diri manusia, yang membuat setiap karyanya baik dan berkenan:
5. kita membaca: “Melius est obedire quam sacrificare”; yaitu Ketaatan lebih baik daripada pengorbanan.
6. Dan kanon suci mengatakan: “Nullum bonum est extra obedientiam”, yaitu, jika semua tindakan kita ingin dinilai baik, maka semuanya harus dilakukan dalam ketaatan.
7. Karena itu, masing-masing di antara anda harus patuh: Pertama-tama pada Perintah Allah, karena Kitab Suci mengatakan: “Maledictus qui declinat a mandatis tuis”, artinya terkutuklah dia yang tidak memperhatikan perintah-perintahMu.
8. Kemudian, pada yang diperintahkan Bunda Gereja Kudus karena kebenaran sendiri telah berkata: “Qui vos audit me audit, et qui vos spernit me spernit”, yaitu dia yang mendengarkan kamu, mendengar Aku , dan dia yang membenci kamu, membenci aku”.
9. Ketiga, mentaati Uskup dan Imam, dan pembimbing rohani anda,
10. dan Bapak serta Ibu Pembimbing Kompani.
11. Apalagi mentaati bapak dan ibu dan atasan lain di rumah,
12. dan kami nasehatkan supaya anda minta maaf kepada mereka sekali seminggu sebagai tanda merendahkan diri dan sarana mempertahankan cinta kasih.
13. Mentaati juga semua hukum dan peraturan penguasa sipil dan penguasa pemerintahan.
14. Di atas semuanya itu, anda harus mentaati nasehat dan ilham yang disampaikan Roh Kudus secara terus-menerus ke dalam hati kita.
15. SuaraNya akan terdengar makin jelas jika hati nurani kita makin murni dan bersih.
16. Karena (menurut Sabda Yesus), Roh Kudus adalah Dia yang mengajarkan kita seluruh kebenaran. “Docet nos omnem veritatem”.
17. Jadi kesimpulannya, kita harus mentaati Allah dan semua orang demi cinta kepada Allah, seperti dikatakan oleh seorang Rasul.
18. Asal yang diperintahkan kepada kita tidak bertentangan dengan kehormatan Allah dan integritas kita sendiri.

1. Maing-masing hendaknya juga mempertahankan keperawanan suci,
2. bukan berkaul karena manusia, melainkan karena dengan sukarela mengorbankan hatinya kepada Allah.
3. Karena keperawanan (menurut para ahli kanon) membuat kita saudari dari semua malaikat,
4. pemenang atas semua keinginan, ratu atas semua kebajikan,
5. dan memiliki semua kebaikan.
6. Karena itu, masing-masing harus selalu berkelakuan sedemikian rupa sehingga baik di batin maupun di depan orang lain ia tidak akan berbuat yang tidak pantas bagi mempelai Yang Maha Tinggi.
7. Di atas segalanya ia harus menjaga kemurnian hatinya dan kejernihan hati nuraninya dari tiap pikiran jahat,
8. dari bayangan rasa iri dan kemauan jahat,
9. dari setiap perselisihan dan kecurigaan,
10. dan dari setiap keinginan serta maksud jahat lainnya.
11. Tapi dia harus gembira dan selalu penuh kasih sayang, iman dan harapan akan Allah.
12. Hendaklah perilaku terhadap sesamanya wajar dan rendah hati, seperti dikatakan Santo Paulus: “Modestia vestra nota sit omnibus hominibus”, artinya biarkan kesederhanaan dan kebijaksanaan anda terlihat oleh semua orang; dan dengan demikian hendaknya tiap tindakan dan kata-kata anda jujur dan apa adanya.
13. Jangan menyebut nama Allah dengan sia-sia
14. dan jangan bersumpah, dan katakanlah dengan sederhana “Tidak, tidak”, “Ya, ya”, seperti diajarkan Yesus Kristus.
15. Jangan menjawab dengan sombong.
16. Jangan melakukan sesuatupun dengan enggan.
17. Jangan marah terus-menerus.
18. Jangan menggerutu.
19. Jangan menyebarkan gosip.
20. Akhir kata, jangan sampai satu pun tindakan atau isyarat anda tidak pantas khususnya bagi mereka yang membawa nama hamba Yesus Kristus,
21. kata-kata, tindak-tanduk dan sikap kita selalu menjadi contoh dan teladan bagi semua yang berurusan dengan kita,
22. selalu menjaga kelangsungan api cinta kasih yang menyala dalam hati kita.
23. Lebih daripada itu, masing-masing harus bersedia mati daripada menodai dan mencemarkan permata yang begitu suci.

1. Akhirnya, kami mendorong anda semua untuk menghayati kemiskinan,
2. tidak hanya sebagai penolakan harta duniawi,
3. tetapi terutama untuk menjalankan kemiskinan rohani yang sejati, dengan demikian manusia membebaskan hatinya dari semua kelekatan
4. dan keinginan akan harta yang fana dan duniawi
5. dan dari dirinya sendiri.
6. Dalam diri Allah ia memiliki semua kekayaan; dan di luar Allah ia tidak memiliki apa-apa dan tidak berarti apapun, sedangkan bersama Allah, ia memiliki segala-galanya.
7. Bukankah kebenaran mengatakan: “Beati pauperes spiritu quoniam ipsorum est regnum caelorum”; artinya berbahagialah yang bersemangat miskin, karena mereka memiliki Kerajaan Surga.
8. Karena itu, masing-masing harus berusaha melepaskan semua hal
9. dan meletakkan seluruh kebahagiaannya, dan cintanya dan kesenangannya, tidak dalam memiliki banyak,
10. bukan dalam makanan dan keserakahan,
11. bukan dalam sanak keluarganya dan sahabat,
12. ataupun dalam dirinya sendiri, kemampuan atau pengetahuannya,
13. melainkan hanya dalam Allah dan dalam penyelenggaraanNya yang lemah lembut dan tak terbayangkan.
14. Injil berkata: “Primum quarite regnum Dei et hacc omnia adjicientur vobis”, “Carilah pertama-tama Kerajaan Allah , dan semua ini akan diberikan kepadamu”.
15. Injil juga berkata: “Nolite solliciti esse quod comedatis neque quod bibatis, scit enim Pater vester quia his omnibus indigetis”: Janganlah khawatir akan apa yang kamu makan atau apa yang akan kamu minum, karena Bapamu di Surga tahu benar bahwa kamu membutuhkan semua itu.
16. Dengan kata lain: Janganlah khawatir akan kebutuhanmu yang fana.
17. Karena Allah sendiri tahu, mampu dan akan menyediakan segalanya.
18. Ia tak menginginkan apapun kecuali kebaikan dan kebahagiaan anda.

1. Telah ditentukan bahwa untuk memimpin Kompani ini dipilih empat antara para perawan Kompani yang dianggap paling mampu
2. dan sekurang-kurangnya empat orang ibu yang sudah menjanda, yang bijaksana dan terhormat hidupnya
3. serta empat orang pria dewasa dan berpengalaman.
4. Para perawan yang telah membaktikan diri itu harus bertindak sebagai guru dan pembimbing dalam hidup rohani.
5. Para janda harus bertindak sebagai ibu yang memperhatikan kesejahteraan putri-putri dan saudari-saudari rohani mereka,
6. sedangkan keempat orang pria itu harus bertindak sebagai wali, bahkan sebagai bapa untuk memenuhi kebutuhan Kompani.
7. Keempat perawan yang disebut di atas mempunyai tugas khusus untuk mengunjungi setiap dua minggu sekali, atau lebih atau kurang, sesuai dengan kebutuhan yang mereka lihat*,
8. semua perawan lain, saudari-saudari mereka, yang tersebar di seluruh kota,
9. untuk meneguhkan dan membantu mereka apabila mereka menghadapi gangguan atau kesulitan, baik jasmani maupun rohani,
10. atau jika atasan mereka di rumah memperlakukan mereka dengan keliru,
11. atau menghalangi mereka dari berbuat baik
12. atau menjuruskan mereka ke dalam bahaya melakukan sesuatu yang salah.
13. Bila mereka sendiri tidak mampu mengatasi hal itu, mereka dapat mengajukannya kepada para ibu,
14. dan bilamana para ibu ini juga tidak sanggup menyelesaikannya, mereka semua harus berkumpul termasuk keempat pria, dan bersama-sama mengatasi kesulitan itu.
15. Bila terjadi salah seorang saudari yang telah yatim piatu dan tidak menerima warisan
16. atau bila seorang saudari bekerja sebagai pelayan, pembantu atau semacam itu yang karena sesuatu hal tidak menerima upahnya,
17. atau bila terjadi hal-hal seperti itu yang memaksa dia berurusan dengan pengadilan dan menghadapi prosedur hukum
18. atau untuk mencapai penyelesaian damai (yang merupakan cara terbaik untuk dilakukan),
19. maka keempat orang pria tadi harus bertindak dengan kebaikan hati seorang bapa dan menangani masalah itu, dan membantu sesuai dengan kebutuhannya.
20. Bila seorang anggota pimpinan berkurang karena kematian atau karena dibebaskan dari jabatannya, Kompani harus berkumpul untuk memilih orang baru untuk memenuhi jumlah yang ditentukan.
21. Juga, bilamana seseorang tidak mampu memenuhi tugasnya atau berkelakuan buruk, orang itu akan diberhentikan dari kepemimpinannya.
22. Jika karena kehendak dan kebaikan Allah sejumlah uang atau harta lain dimiliki bersama, maka harta itu harus dikelola dengan baik
23. dan dibagi dengan bijaksana,
24. terutama untuk membantu saudari-saudari sesuai dengan setiap kebutuhan saat itu.
25. Jika dua orang ditinggal tanpa ayah atau ibu ataupun wali lain, demi cinta kasih, sebuah rumah akan disewakan untuk mereka (kalau mereka tidak memilikinya) dan kebutuhan mereka harus dipenuhi.
26. Tetapi bila ditinggal seorang diri, hendaknya salah seorang di antara mereka akan bermurah hati dan menerimanya ke dalam rumahnya sendiri
27. di mana ia akan diberikan bantuan yang dianggap layak oleh yang berwenang;
28. Bila ia lebih senang bekerja sebagai pembantu atau pelayan, maka para pembesar akan melihat agar supaya ia ditempatkan di mana ia merasa kerasan dan dapat hidup dengan terhormat.
29. Bila seorang ada saudari-saudari sedemikian lanjut usianya sehingga ia tidak sanggup memenuhi kebutuhannya sendiri, demi cinta kepada Allah ia harus membiarkan dirinya dibantu dan dilayani sebagai mempelai yang sejati dari Yesus Kristus.
30. Akhirnya apabila seorang jatuh sakit, hendaknya ia dijenguk, dibantu dan dilayani siang dan malam bila dibutuhkan.
31. Jika ia sudah dekat ajalnya ada baiknya ia mewariskan sesuatu kepada Kompani sebagai tanda sayang dan cinta kasih.
32. Apabila seorang di antara mereka meninggal, semua saudari yang lain akan mengantarkannya ke makam, dengan berjalan berdua-dua dengan rasa cinta kasih masing-masing membawa lilin bernyala.
33. Mereka yang bisa membaca mengucapkan doa ofisi untuk orang meninggal,
34. mereka yang tidak bisa membaca mengucapkan tiga puluh tiga Bapa Kami dan tiga puluh tiga Salam Maria,
35. supaya, jika jiwa saudari itu sedang menderita di tempat penantian karena dosanya, Mempelai kita yang manis dan murah hati, Yesus Kristus, akan membebaskannya dari penderitaan.
36. Dan mengantarnya ke dalam kemuliaan surgawi di antara para perawan, dan memahkotainya dengan mahkota perawan emas yang cemerlang dan gilang gemilang.


Catatan kaki
* Dalam naskah Trivulzian, ayat ini terletak segera sesudah no. 6. Mungkin ini adalah catatan tambahan yang salah ditempatkan oleh penyalin naskah